Sunday, July 30, 2006

ABSES BINTI UDUN

Simbah punya pengalaman unik menangani abses atawa orang jawa bilang udunen. Abses ini merupakan kumpulan nanah yang berkantong di bawah kulit. Besar kecilnya pariatip. Ada yang kecil, disebut 'mlenthing'. Kalo agak besar disebut 'mlenthung'. Kalo besar sekali disebut 'mlendhung'.

Rasa dari abses ini luar biasa nyeri, senut-senut menjalar sampe jauh. Kaki berabses nyerinya sampe selangkangan. Tangan berabses nyerinya sampe ketek. Yang repot kalo abses letaknya di bokong... wah mau duduk susah itu. Tidur pun gak nyaman. Tidur telentang nyut-nyutan, kalo tengkurep ilang nyut-nyutannya tapi jadi ngos-ngosan.

Bagi tenaga medis seperti simbah, yang penting gimana si pasien tidak banyak melolong-lolong kesakitan ketika proses pengobatan sedang dimulai. Alat yang dipake sebenernya cuma pisau bedah tajam dan ini tak terasa sakit manakala ditorehkan karena tajamnya. Namun nyang namanya pasien, baru ngliat pisau bedah dikeluarkan sudah ada yang mau pingsan, ada yang mblirit ciut nyalinya, ada juga yang njerit histeris. Wah... ini nambah problem saja.

Begitu mau disudhet, kesulitan berikutnya menyusul, yakni bendungan nanah yang nyeprot. Ada yang begitu simbah sudhet mak siiiir... langsung.. crooot.. nanah dleweran kemana-mana. Seringkali volumenya gak terduga. Ada yang sedikit, ada yang mbanyu mili mbanjir bandang. Yang pernah simbah ukur, ada seorang pasien jumlah volume nanahnya 3 sampai 4 kali tabung reaksi berukuran 25 cc. Jadi total sampe 100 cc jumlah nanahnya. Repotnya lagi, letak absesnya di ketek pasien itu.... weleh.. seger temen rek...

Pernah juga datang ujian iman... abses letaknya di puting susu ibu beranak satu. Lhadalah... yang ini gak usah diceritakan lah... pokoke simbah sampe berpeluh-peluh mengeluarkan nanahnya.... heehhh..

Untuk menghindar dari musibah absen binti udun ini, cuma satu rahasianya.. kebersihan. Mangkanya mbok ya jangan kemproh-kemproh tho. CD bin sempak sering ganti, jangan kalo sudah beraroma bangkai baru ganti. Kulit dijaga kebersihannya. Mandi dua kali, jangan males pakai sabun, kalo kokot bolot sudah nggedibal dan sabun gak mempan, pakai saja batu buat nggosok sang kokot bolot tersebut. Kalo gak mempan juga, ya sudah... amplas saja, tinggal ngepoksi lalu dicat...

Thursday, July 20, 2006

JANDA KB

Ini kisah nyata di tempat praktek Simbah. Sebenarnya hal ini sifatnya pribadi dan rahasia pasien. Maka sesuai kode etik, Simbah hanya mengulas singkat saja tanpa menyebut siapa pelakunya.

Yang jelas pelakunya tidak hanya satu. Sebenarnya Simbah hanyalah menjalankan tugas saja sebagai tenaga medis. Namun karena hidup sekomplek, mau tidak mau akhirnya jadi tahu kondisi sebenarnya.

Yang jadi masalah adalah seandainya kejadian ini berulang lagi, gimana ya sebaiknya?? Secara teoritis Simbah gak boleh su'udhon, gak boleh curiga dan gak boleh negatip tingking. Tapi melihat kasunyatan bahwa yang datang adalah seorang janda tapi kok minta suntik KB, simbah jadi mikir nyang macem-macem. Lha dinggo opo ngono lho... ndadak KB barang ki lho...

Untungnya sang janda tidak pernah kembali lagi minta suntik. Mungkin karena tahu, Simbah suka ngisi pengajian bapak-bapak maupun ibu-ibu.

Kiro-kiro dinggo opo yo kok ndadak nganggo suntik barang...? Wong wis cetho yen Mbok Rondo dadapan ngono lho..??

Sunday, July 16, 2006

ARANING PILORO

Kadang-kadang nyang namanya pasien, dateng ke dokter itu dengan keluhan nyang diterjemahkan dalam bahasanya sendiri. Padahal apa nyang Simbah pelajari di bangku kuliah, hal semacem ini gak pernah dimasukan dalam kurikulum.

Nama-nama penyakit atawa diagnosis dalam dunia medis itu keren-keren. Ada penyakit namanya miliaria, urtikaria, karsinoma, sarkoma, nefroblastoma dan sebagenya. Tapi kalo sudah ngadepi pasien kuno, simbah susah nglacak penyakitnya. Misalnya pasien dateng dengan tak henti-hentinya bilang, "Mbah gue giduan nih mbah, giduan mbah....!!"

Biduan simbah tahu, gituan juga lebih tahu. Tapi giduan... hmm panganan opo maneh kih? Ternyata nyang disebut itu adalah biduran, alias urtikaria. Biasanya ada juga nyang nyebut kaligata. Lain tempo ada nyang dateng dengan keluhan cacar monyet, belek putih, dompo, katimumul dan lain sebagenya menurut bahasanya masing-masing.

Kalo orang jawa biasanya nama penyakit itu diakhiri dengan "en". Misalnya : gabagen, cacingen, cangkrangen, gudigen, beleken, dobolen, udunen, dan laen sebagenya. Mungkin terpengaruh dengan istilah Belanda yang seringkali diakhiri dengan "en". Padahal akhiran "en" itu bisa berarti perintah bagi orang kedua untuk melakukan sesuatu pada orang pertama.

Misalnya : gebugen, ini orang nyuruh nggebug. Bantingen, artinya nyuruh mbanting. Unthalen, artinya nyuruh ngunthal. Nah repotnya ada penyakit namanya "Lumpangen". Ini penyakit nyang di dunia medis namanya sariawan alias stomatitis. Tapi di kalangan wong jowo "lumpang" itu adalah cobek. Jadi "lumpangen" itu bisa berarti nama penyakit, tapi bisa juga berarti nyuruh mukul pake cobek.

Mangkanya kalo ada nyang mbilangin, "Lambeku lumpangen.." itu bisa berarti bibirnya sariawan, tapi bisa berarti juga bibirnya suruh nabok pake cobek.

Ada lagi penyakit namanya "sudhuken". Biasanya mengenai daerah perut. Ini harus ati-ati kalo ngomong. Kalo ada nyang dateng dengan ngomong, "Wetengku sudhuken" itu belum tentu berarti perutnya minta disudhuk (disodok), tapi bisa jadi perutnya nyeri nyang rasanya kayak disudhuk.

Nah, barangkali ada manpangatnya jika kalangan medis menambah kosa katanya dengan nama-nama penyakit nyang dikenal di daerah masing-masing....

Wednesday, July 12, 2006

KENTHUT

Perbuatan yang satu ini memang menyenangkan dan memuaskan bagi pelakunya. Namun tidak demikian bagi yang kedapatan mendapati efek samping.. eh.. belakangnya. Sekali mak bruut.... sekumpulan orang nongkrong bisa buyar. Menjijikkan memang, tapi sekaligus enak tiada tara. Buat orang lain baunya bisa bikin muntah, tapi jika itu dicium oleh si pelakunya, terasa bak mencium aroma Dji sam soe kadar nikotin 30 mg, tanpa filter.... mak sesss.

Namun meskipun dibenci, di dunia medis barang yang satu ini kadangkala menjadi barang yang ditunggu-tunggu oleh pasien. Contohnya pasien pasca operasi. Biasanya dokter baru membolehkan si pasien minum maupun makan manakala sudah mendapat laporan dari si pasien bahwa brutunya sudah mengeluarkan barang ghaib ini.

Demikian halnya dalam masalah kesehatan. Jika seseorang tidak bisa 'ngebret' dalam sehari, hampir bisa dipastikan blodhotnya gak sehat. Perlu diketahui juga, bahwa salah satu yang ditanyakan kepada pasien yang diduga terkena ileus adalah apakah hari itu pasien bisa ngenthut apa tidak...

Jadi kenthut dalam hal ini sebenarnya merupakan suatu nikmat yang diberikan Sang Pencipta kepada kita agar kesehatan perut kita terjaga. Hanya saja dalam hal pembuangannya perlu diperhatikan adab tata caranya. Jangan asal ngeden, asal 'ngobrot', asal mbuang, tapi banyak hidung disekitarnya protes.

Masalah kenthut inipun ternyata diatur juga oleh Rasulullah saw. Yakni manakala ada yang kenthut saat pengajian bersama Rasul, banyak hadirin yang ngakak terbahak-bahak. Saat itupun Rasulullah saw menegur mereka yang tertawa. Isi tegurannya adalah, mengapa mereka menertawakan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas ditertawakan? Tapi ini bukan merupakan dalil bagi si pengenthut agar sembarangan saja mbenjret dimana-mana tempat. Tapi merupakan pelajaran bahwa tertawa itu harus pada tempatnya. Sedangkan bagi pengenthut sendiri, tentunya ada pelajaran lainnya. yakni tidak menyengsarakan pernafasan banyak hidung.

Guru simbah mengajarkan bahwa kenthut itu merupakan gambaran harta manusia. Yakni tidak semua yang dia miliki itu harus dikangkangi semua, namun harus ada yang dikeluarkan. Jika tidak dikeluarkan -dalam hal ini diinfakkan- maka bisa jadi penyakit. Dan kalau sudah dikeluarkan jangan disebut-sebut lagi alias diundat-undat.

Bayangkan jika tidak kenthut, mesti bikin tidak sehat. Dan jika sudah mbrojol keluar, jangan disebut! Malahan biasanya orang yang kenthut akan diem saja manakala ada oknum yang nemu kenthutnya. Nah infak harta juga begitu. Jika harta kita sudah diinfakkan, Insya Allah harta kita jadi sehat. Dan jangan pedulikan lagi infak yang sudah kita keluarkan... biarlah ditemu orang lain agar dimanfaatkan. Merasa malulah jika kita berkoar-koar bahwa kita sudah infak ini dan itu, sebagaimana malunya kita sudah kenthut di tengah acara arisan ibu-ibu.....