Wednesday, July 12, 2006

KENTHUT

Perbuatan yang satu ini memang menyenangkan dan memuaskan bagi pelakunya. Namun tidak demikian bagi yang kedapatan mendapati efek samping.. eh.. belakangnya. Sekali mak bruut.... sekumpulan orang nongkrong bisa buyar. Menjijikkan memang, tapi sekaligus enak tiada tara. Buat orang lain baunya bisa bikin muntah, tapi jika itu dicium oleh si pelakunya, terasa bak mencium aroma Dji sam soe kadar nikotin 30 mg, tanpa filter.... mak sesss.

Namun meskipun dibenci, di dunia medis barang yang satu ini kadangkala menjadi barang yang ditunggu-tunggu oleh pasien. Contohnya pasien pasca operasi. Biasanya dokter baru membolehkan si pasien minum maupun makan manakala sudah mendapat laporan dari si pasien bahwa brutunya sudah mengeluarkan barang ghaib ini.

Demikian halnya dalam masalah kesehatan. Jika seseorang tidak bisa 'ngebret' dalam sehari, hampir bisa dipastikan blodhotnya gak sehat. Perlu diketahui juga, bahwa salah satu yang ditanyakan kepada pasien yang diduga terkena ileus adalah apakah hari itu pasien bisa ngenthut apa tidak...

Jadi kenthut dalam hal ini sebenarnya merupakan suatu nikmat yang diberikan Sang Pencipta kepada kita agar kesehatan perut kita terjaga. Hanya saja dalam hal pembuangannya perlu diperhatikan adab tata caranya. Jangan asal ngeden, asal 'ngobrot', asal mbuang, tapi banyak hidung disekitarnya protes.

Masalah kenthut inipun ternyata diatur juga oleh Rasulullah saw. Yakni manakala ada yang kenthut saat pengajian bersama Rasul, banyak hadirin yang ngakak terbahak-bahak. Saat itupun Rasulullah saw menegur mereka yang tertawa. Isi tegurannya adalah, mengapa mereka menertawakan sesuatu yang sebenarnya tidak pantas ditertawakan? Tapi ini bukan merupakan dalil bagi si pengenthut agar sembarangan saja mbenjret dimana-mana tempat. Tapi merupakan pelajaran bahwa tertawa itu harus pada tempatnya. Sedangkan bagi pengenthut sendiri, tentunya ada pelajaran lainnya. yakni tidak menyengsarakan pernafasan banyak hidung.

Guru simbah mengajarkan bahwa kenthut itu merupakan gambaran harta manusia. Yakni tidak semua yang dia miliki itu harus dikangkangi semua, namun harus ada yang dikeluarkan. Jika tidak dikeluarkan -dalam hal ini diinfakkan- maka bisa jadi penyakit. Dan kalau sudah dikeluarkan jangan disebut-sebut lagi alias diundat-undat.

Bayangkan jika tidak kenthut, mesti bikin tidak sehat. Dan jika sudah mbrojol keluar, jangan disebut! Malahan biasanya orang yang kenthut akan diem saja manakala ada oknum yang nemu kenthutnya. Nah infak harta juga begitu. Jika harta kita sudah diinfakkan, Insya Allah harta kita jadi sehat. Dan jangan pedulikan lagi infak yang sudah kita keluarkan... biarlah ditemu orang lain agar dimanfaatkan. Merasa malulah jika kita berkoar-koar bahwa kita sudah infak ini dan itu, sebagaimana malunya kita sudah kenthut di tengah acara arisan ibu-ibu.....

1 Comments:

At 4:06 PM, July 13, 2006, Blogger nanda_mayra said...

kentut mang baik buat kesehatan..kalo ditahan2 bikin mules n pucet..masalah bau ato ngga tergantung mood hihihii..hidup kentut!!!

 

Post a Comment

<< Home