Wednesday, August 23, 2006

LIBIDO DAN POTENSI SEXUAL

Mungkin banyak yang belum begitu paham perihal libido dan potensi sexual ini. Kebanyakan menyamakannya. Padahal beda. Libido itu lebih mengarah kepada dorongan atau hasrat sexual. Sementara potensi sexual itu adalah kemampuan seseorang untuk dapat melakukan hubungan sex.

Saat ini kita banyak menjumpai toko obat yang menawarkan ramuan, obat ataupun jamu-jamu yang berkhasiat sebagai obat kuat lelaki. Bahkan tak jarang orang-orang merekomendasikan berbagai macam bahan yang dipercaya sebagai obat kuat. Ada yang menyarankan ngunthal ndog bebek, ada juga yang lebih nggilani lagi, yakni ngunthal cindhil tikus urip-urip. Belum lagi adanya bahan-bahan yang diyakini manjur, namun sangat susah didapat, seperti tangkur buaya, mata serigala sebelah kanan, hati beruang, sirip hiu, empedu kobra, brutu badak ataupun barang-barang aneh dan langka lainnya.



Herannya si pemakai pun juga tidak paham, apakah bahan yang dikonsumsinya itu khasiatnya menaikkan libido saja atau meningkatkan potensi sexual juga. Karena jika yang dimaksud menaikkan libido, maka buka-buka majalah porno pun bisa langsung menaikkan libido, alias membangkitkan syahwat. Tapi tidak semua yang syahwatnya bangkit atau libidonya meningkat memiliki potensi sexual yang baik.

Seorang yang impoten, belum tentu gak punya libido, namun yang jelas burungnya gak bisa ngadeg. Jadi lihat wanita sexy berlingerie gairah sexnya naik, namun gak punya potensi sexualnya. Orang yang impoten belum tentu libidonya rendah. Orang yang potensi sexualnya besar belum tentu juga libidonya tinggi. Jadi libido dan potensi sexual itu beda coy...



Nah kalo ketemu obat yang fungsinya menaikkan libido, itu maksudnya hanya menaikkan syahwat saja. Bukan biar ngadegnya lebih lama. Kalo buat menaikkan syahwat sih gampang, lihat yang ngeres-ngeres juga syahwatnya bangkit.  Tapi kalo obat itu meningkatkan potensi sexual, maka itulah obat yang bisa mbikin sang "thunderbird" bisa menjulang ke langit.

Jadi jangan salah lagi.

Saturday, August 05, 2006

OBAT HALAL

Simbah teringet sama almarhumah bibi simbah yang kemarin terkena kanker rahim. Sewaktu hidupnya, karena berobat kesana-kemari belum menampakkan hasil, datanglah saran dari sesepuh keluarga yang aroma kleniknya kental. Beliau menyarankan si bibi mengkonsumsi paru-paru Celeng (babi hutan). Blaik tenan... ya sebagai orang Islam temtu saja si bibi menolak.

Simbah yakin juga, bahwa jikalau kasus ini menimpa sebagian besar muslimin Indonesia, mereka akan menolak jika dikasih obat paru-paru ataupun hati celeng. Mengapa? Ya temtunya ini dikarenakan Celeng adalah binatang yang haram dikonsumsi.



Tapi apa jadinya manakala dengan sentuhan teknologi, si celeng tersebut bisa berubah wujud menjadi bungkus kapsul, campuran tablet atau bahkan menjadi bahan baku obat tersebut? Apalagi wujud celeng itu sudah jadi pil, kapsul atau tablet bahkan sirup?

Lha apa memang obat-obatan yang kita konsumsi sehari-hari itu mengandung Celeng bin babi?  Nah, itulah yang kita gak tahu. Hanya saja potensi untuk itu besar sekali. Bahan obat seringkali susah dipisahkan dengan yang namanya gelatin. Gelatin ini bisa dari bahan sapi, bisa juga dari babi. Hanya yang jelas peredaran gelatin dunia cenderung didominasi oleh gelatin babi. Selain lebih ekonomis, proses pembuatannya pun lebih cepat.

Gelatin bermain di cangkang kapsul, atau di tablet dengan peran sebagai emulsifier, penstabil dan fungsi aditif lainnya. Jadi gelatin itu bukan zat obatnya itu sendiri, tapi hanya campuran obat. bahkan bisa menjadi bahan campuran dalam infus, plasma ekspander maupun bahan sirup.

Itu belum cukup. Jika sampeyan ngonsumsi suplemen dimana disitu disebut mengandung ekstrak hati sebagai suplemen tambah darah, lha hati binatang apa itu? Jangan-jangan hati celeng? Pabriknya khan gak pernah bilang ke kita.. Jika kita minum minuman suplemen yang mengandung TAURIN, harusnya kita bertanya, taurin itu apa? Taurin itu protein hewani, masalahnya... hewan apa yang diambil taurinnya itu..??

Masyarakat kita masih masa bodoh dan memang masih bodoh tentang hal ini. Yang dikejar dari pengobatan adalah "Yang Penting Sembuh". Jadi fokusnya adalah hasil, sehingga mengabaikan proses. Maka untuk sembuh segala cara ditempuh, sehingga menghalalkan segala cara. Biar sembuh kalo perlu minum uyuhnya sendiri, makan tahinya sendiri atau makan tahi kebo bule, ngunthal paru celeng, ngemplok undur-undur, bahkan kalau perlu merdukun. Tapi seandainya yang dipentingkan adalah proses, maka hal ini tidak akan terjadi. Prosesnya hala dulu, masalah kesembuhan Allah yang beri.

Yah, jangankan untuk sehat... untuk cari makan saja masyarakat kita masih mementingkan hasil kok. Yang penting hasilnya banyak. Masalah itu hasil dari korupsi, maling, nggorok leher orang, makan harta orang miskin, dari melacur, jual kehormatan... semua gak penting. Yang penting hasilnya...

Sampeyan juga gitu ya..??